Hari Batik Nasional 2 Oktober 2019, Gubernur Jawa Tengah kenakan baju Batik Rifaiyah

Batik Indonesia telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi pada tanggal 2 Oktober 2009 oleh United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organizazion (UNESCO). Pemerintah Indonesia telah menetapkan hari Batik Nasional pada tanggal 2 Oktober setiap tahunnya.

Pada peringatan hari batik nasional di kota Solo – Jawa Tengah, Bapak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengenakan pakian batik rifaiyah (khas Kabupaten Batang, produksi Desa Kalipucang Wetan) dalam menyambut Bapak Presiden RI Jokowi dibandara solo.

Presiden Joko Widodo menghadiri puncak acara peringatan Hari Batik Nasional 2019 di Pura Mangkunegaran, Solo, hari ini. Jokowi hadir ditemani ibu negara Iriana. Jokowi dan Iriana tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB, Rabu (2/10/2019). Jokowi langsung meninjau kegiatan membatik massal di halaman Pura Mangkunegaran.

Selaku warga batang khususnya warga Desa Kalipucang Wetan Kab. Batang, merasa bangga karena produk lokal berupa batik rifaiyah telah dikenakan dan dipromosikan oleh Bapak Gubernur kepada Bapak Presiden dan masyarakat luas. Batik Rifaiyah merupakan warisan budaya di kabupaten Batang, seorang budayawan (MJA Nashir) menuliskan karya tentang :

MENGGALI & MENGHIDUPI TRADISI BATIK DI BATANG (III)
III.
Oleh karena telah sering saya menulis tentang Batik Rifaiyah, kali ini saya tuliskan point-point Batik Rifaiyah sebagai berikut:

Para pembatik Rifaiyah Kalipucang Wetan Batang
  • Produk budaya komunitas (umat) Rifaiyah. Lahir, hidup dan berkembang di antara umat Rifaiyah yang saling berinteraksi. Keberadaannya tidak hanya di satu tempat. Disatukan oleh nilai/ ajaran.
  • Nilai-nilai/ajaran bermula dari K.H. Ahmad Rifai (1786-1869). Sosok yang pada 5 November 2014 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI (Keppres No. 89/TK/2004) sebagai penghormatan atas perjuangan beliau dalam melawan penjajahan kolonialisme Belanda.

K.H. Ahmad Rifai (1786-1869)
  • Kitab-kitab ajaran tertulis dengan syair-syair (Tarjumah). Syair-syair ini hidup dalam jiwa umatnya.
  • Di tangan para perempuan Rifaiyah menjadi ekspresi seni batik.
  • Desa Kalipucang Wetan Batang Jawa Tengah satu-satunya yang masih kuat kehidupan seni batik Rifaiyah.
  • Batik Rifaiyah menjadi busana umat Rifaiyah; sebagai jarik/tapih bagi perempuan dan sarung bagi laki-laki.
  • Secara tradisi, perempuan Rifaiyah membuatkan kain batik untuk calon suami, disampaikan di saat pernikahan.
  • Pengaruh ajaran KH. Ahmad Rifai pada batik Rifaiyah tampak pada pelarangan penggambaran makhluk hidup selain tumbuh-tumbuhan (flora), kecuali yang sudah mati atau yang sudah terpotong. Semua elemen gambar ‘difloralkan’. Menjadi ciri khas batik Rifaiyah.
  • Terdeteksi 24 motif; pelo ati, kotak kitir, banji, sigar kupat, lancur, tambal, kawung ndog, kawung jenggot, dlorong, materos satrio, ila ili, gemblong sairis, dapel, nyah pratin, romo gendong, jeruk no’i, keongan, krokotan, liris, klasem, kluwungan, jamblang, gendaghan dan wagean.
  • Motif mengandung makna-makna spiritualitas.
  • Contoh paling kuat ajaran spiritualitas adalah motif Pelo Ati, terdapat ajaran sufisme (tasawuf). Ayam merak kepala terpancung, dalam badan ada hati, di luar ada pelo (ampela). Hati = 8 sifat terpuji; zuhud (tidak mementingkan keduniawian), qana’at (merasa cukup atas karuniaNya), shabar, tawakkal (berserah diri kepadaNya), mujahadah (bersungguh-sungguh), ridla (rela), syukur dan ikhlas. 8 Sifat ini bermakna kahauf (takut), mahabbah (rasa cinta), dan makrifat (perenungan kepada Allah). Ampela = tempatnya kotoran, sifat-sifat; hubbu al-dunya (cintai dunia, disangka mulia di akhirat sia-sia), thama’ (rakus), itba’ al-hawa (mengikuti hawa nafsu), ‘ujub (mengagumi diri sendiri), riya (suka dipuji), takabur (sombong), hasad (dengki) dan sum’ah (suka membicarakan amal kebajikannya pada orang). Semua sifat tercela dan kotor ini harus dibuang jauh-jauh dari hati.

Mbah Umriyah, pembatik senior Rifaiyah Kalipucang Wetan sedang membatik di rumahnya, di ruang kerjanya yang sekaligus kamar tidurnya. (photo: Imangjasmine 2016)
  • Para pembatik Rifaiyah mengerjakan batiknya di dalam rumah.
  • Membatik bagi kaum Rifaiyah bukan sekedar menggoreskan malam ke dalam kain, namun juga laku spiritual.
  • Nafas spiritualitas Islam bertaut pada akar budaya Jawa.
  • Kreativitas dan keempuan sangat kuat dalam proses penciptaan.
  • Dalam konteks sebagai batik wilayah pesisir, Batik Rifaiyah boleh jadi terdapat pengaruh-pengaruh dari ‘luar’ (‘non lokal’), namun semua itu dilebur dan tetap bertaut pada akar budaya Jawa. Sebagaimana kitab tarajumah yang meski ditulis dengan huruf arab pegon namun bahasa dan bunyinya adalah Jawa. Meskipun agamanya Islam, tapi tetap orang Jawa.
  • Sebagai batik tradisi, turun temurun dari generasi ke generasi.
  • Secara teknis rumit, penuh detail.
  • Pembatikan pada dua sisi kain, bolak-balik (terusan).
  • Teknik masih tradisional. Kain mori tidak langsung dibatik, proses kethelan terlebih dulu (direndam dengan minyak kacang sekitar 5 hari).
  • Pembatik Rifaiyah mengerjakan batiknya sendiri untuk semua proses dari tahap awal hingga akhir. Hal yang sudah jarang dikerjakan para pembatik lain di luar komunitas ini di tengah area industrialisasi batik.
  • Proses pengerjaan batik berbulan-bulan (minimal 2-3 bulan).
  • Dulunya satu kain berisi satu motif, pada perkembangannya satu kain bisa terdiri dua motif. Secara umum, pembagian ini disebut ‘pagi sore’, pada batik Rifaiyah disebut dengan istilah ‘tugelan’.
  • Batif Rifaiyah merupakan ekspresi komunal sekaligus ekspresi personal. Dikerjakan langsung secara freehand pada saat proses nglowongi, tanpa sketsa pensil terlebih dulu atau njiplak (njaplak/ngeblad).
  • Prosesnya yang masih tradisional dan makan waktu lama otomatis harga kain batik Rifaiyah terkesan mahal bila dibanding batik umumnya yang dikerjakan secara cepat.
  • Uniknya para pembatik Rifaiyah Kalipucang Wetan juga mengerjakan batik-batik yang cepat pengerjaannya, diluar motif-motif ‘sakral’. Disebut ‘batik kendil’. Ini upaya bijak dari komunitas batik Rifaiyah agar bisa bertahan hidup, agar dapur tetap ngebul untuk keperluan ekonomi sehari-hari.

para laki-laki umat Rifaiyah mengenakan batik Rifaiyah sebagai sarung (photo: MJA Nashir)
Tentang batik Batang dan batik Rifaiyah perlu penelitian khusus yang serius dan mendalam tentang kesejarahannya yang seiring pula dengan keseriusan usaha konservasi agar bisa lestari dan berlanjut dari generasi ke generasi.
Ada kecenderungan yang makin latah saat ini di mana ‘penyama-nyamaan’ yang serasa bertujuan mencari ‘siapa meniru siapa’ diamini sebagai kajian batik. Misalnya; motif batik A kok seperti motif batik B; warna ini seperti itu; burung ini seperti burung itu; atau motif benjiitu dari China, padahal kenyataannya Nazi juga pakai, begitu juga tradisi India atas simbol Hindu dan Buddha. Secara visual bisa saja kelihatan sama atau mirip namun konteks dan maknanya bisa pula berbeda. Semestinya kajian batik bukan melulu macam itu. Mengingat dalam peradaban / kebudayaan seringkali ada hal-hal yang sifatnya spontan dan spiritual yang bisa melahirkan hal yang sama dalam waktu relatif sama pada dua entitas atau lebih meskipun dibatasi jarak. Contohnya, manusia gua di Eropa melukisi dinding-dinding gua dengan gambar-gambar yang sama dengan manusia gua di Sulawesi pada ribuan tahun silam. Lantas siapa meniru siapa?

Batang Heritage bersama tamu dari India sedang memeriksa Batik Rifaiyah
Berkait batik Rifaiyah seyogyanya kita menghargai dan memposisikannya sebagai tradisi batik spiritual. Tidaklah tepat dan tidaklah pada tempatnya jika batik Rifaiyah yang motif-motif dan proses penciptaan batiknya sarat dengan spiritualitas lantas dibandingkan dengan motif-motif yang lahir dari sistem usaha batik yang industrialis hanya untuk mencari ‘kesamaan-kesamaan’nya atau untuk membilang bahwa motif burung dalam batik Rifaiyah meniru jenis burung di motif batik peranakan China yang ini, yang itu. Memang bisa begitu, tapi perlu studi dan pembuktian lebih dalam. Terlalu naif untuk menyamakan hal yang spiritual dengan yang profan. Tidak ‘apple to apple’ istilah anak jaman sekarang. Jika mau menarik ke “tiru meniru”, “ini sama dengan itu”, mengapa tak sekalian membandingkannya dengan karya-karya batik Franquemont atau Eliza Charlotte Van Zuylen Niessen? Jangan-jangan yang disebut-sebut itu justru meniru Franquemont atau Eliza karena merekalah yang pertama ‘membebaskan’ batik dari pola geometrisnya menjadi desain atau gaya lukisan naturalis, seperti halnya Eliza membuat batik bunga-bunga (buketan) dengan burung-burung beterbangan lalu orang-orang (para pembatik) lain di masa itu mengganti burung-burung itu dengan phoenix atau naga?

Widianti Widjaja, penerus batik Oey Soe Tjoen Kedungwuni
Saya justru sangat menghargai Mbak Widianti Widjaja, penerus batik Oey Soe Tjoen Kedungwuni, ketika Agustus lalu saya ke sana para mahasiswa dari Bandung bertanya tentang makna-makna di balik batik karya keluarga Oey Soe Tjoen ini. Mbak Widya menjawab, “Kami tidak membuat batik seperti batik-batik Jawa yang sarat dengan makna-makna. Kami membuat batik seperti seni saja”. Saya pribadi mengagumi karya-karya batik peranakan seperti halnya batik Oey Soe Tjoen ini. Bagaimanapun, karya-karya batik yang luar biasa.

penulis saat sedang mengamati karya-karya batik Rifaiyah di pameran “Merayakan Batik Rifaiyah”
Kembali ke batik Rifaiyah yang dibuat oleh satu orang pembatik dari proses awal hingga jadi kain dan tanpa sketsa, tanpa ngeblad, tapi langsung dengan canting di atas sehelai katun putih untuk memulai pekerjaan awal (nglowongi) itu kadang saya bingung. Kok bisa, seorang pembatik yang notabene orang kampung, membuat karya yang bagi saya ‘gila’, saking rumitnya itu. Bagaimana menyikapi kain putih panjang sekitar 2 meter, lebar sekitar 1 meter menjadi bidang karyanya tanpa ‘perencanaan’ atau yang dalam bahasa senirupa disebut ‘sketsa’ itu? Spontan pembatiknya menerakan canting berisi malam di atas kain putih. Bagaimana nanti kalau ternyata ruangnya tak cukup karena yang digambar paling awal kebesaran atau kekecilan dan lain-lain? Ilmu desain senirupa kita letakkan dimana pada hal yang seperti ini? Bukan berarti orang-orang kampung ini tidak memiliki ilmu ‘desain’. Ada, dan rapat di dalam isi kepalanya, tersambung dari hatinya dan meluncur melalui tangan melewati ujung canting berhembus doa yang menggerakkan leleh malam menari-nari di atas kain putihnya. Berhari-hari hingga berbulan-

Pembatik Rifaiyah, Bu Kamilah
bulan pembatik rifaiyah bekerja, membatik dengan canting bermalam dan memproses warna. Suatu hari, ketika berada di samping pembatik Rifaiyah, Bu Kamilah, di tempat kerja di rumahnya saya pernah mengira satu kain di gawangan bambu sudah selesai karena telah tampak indah. Tapi beliau bilang, “Belum selesai itu, Mas. Tinggal proses satu warna lagi”. Atas jawaban itu saya pikir besok atau lusa atau setidaknya beberapa hari lagi akan selesai. Ternyata, “dua bulan lagi”, jelas Bu Kamilah. Seketika saya terdiam. Saya bayangkan bagian yang sudah diwarna ditutup malam satu persatu lagi, termasuk yang kecil-kecil, rumit, berhari-hari, kemudian proses warna untuk bagian yang belum diwarnai hingga dilorod kembali malamnya. Begitu prosesnya, lama, panjang, rumit sekaligus menakjubkan.

Batik Rifaiyah motif ‘Pelo Ati’
Ketakjuban saya pada Batik Rifaiyah juga pada motif-motifnya yang tak melulu geometris tapi juga terasa surealis seperti tampak pada motif-motif yang terbentuk dari unsur hewan (fauna) yang dipotong-potong secara unik berpadu flora. Menjadi karya seni bercita rasa tinggi. Meski mereka bukan Salvador Dali atau Vincent van Gogh sehingga para pembatik ini tak perlu sampai memotong telinga.
Kita musti berseru bahwa para pembatik tradisional, seperti pembatik Rifaiyah, sejatinya orang-orang jenius. Meski mereka orang-orang kampung. “Justru sebab mereka orang kampung, mereka memiliki cara ‘melihat’ yang berbeda dari orang yang pernah ke sekolah. Mereka bisa melihat secara asli dan bukan linier”, ujar antropolog ahli kain tradisi, Sandra Niessen.
Ya, merekalah para maestro. Jika seni rupa modern bisa dihargai dan diposisikan tinggi, lantas mengapa kepada seni tradisi yang jelas-jelas lahir sebagai pribumi masih saja diposisikan rendah? Toh, para seniman tradisional seperti para pembatik Rifaiyah ini adalah para pejuang budaya dan tradisi negri.
Pada tahun 2012, di Museum Tekstil Jakarta saya menyaksikan pameran batik dari berbagai tempat di Nusantara yang dipengaruhi Islam didisplay di masing-masing standnya. Ada satu stand kosong. Tak ada kain batiknya sama sekali. Hanya foto-foto dan keterangan-keterangan di dinding. Sesuai tertera, stand itu bernama “Batik Rifaiyah”. Pendeknya, lewat pameran ini adanya batik Rifaiyah hanya disebutkan, tapi tradisinya tidak terwakili di sini. Sayang. Dari pengalaman itu, akhirnya bersama teman-teman Batang Heritage saya sering ke Kalipucang Wetan Batang untuk mendalami batik Rifaiyah, berjumpa langsung dengan para pembatik dan menyelami kampung itu, selain juga intens mengadakan diskusi-diskusi informal.

poster “Merayakan Batik Rifaiyah”, 2016
26 Januari 2016 kami, Batang Heritage, sepakat mengadakan event bertajuk “Merayakan Batik Rifaiyah” di Kalipucang Wetan. Event tersebut kami gelar dengan pertimbangan dan cara sebagai berikut:
  • Perlunya mengangkat eksistensi Batik Rifaiyah agar dikenal selain di khalayak Batang sendiri maupun lebih luas (nasional).
  • Mengangkat para pembatik Rifaiyah sebagai subyek penting agar layak mendapat penghargaan dan rasa kebanggaan. Mereka berhak bersuara dan menyatakan pendapat.
  • “Merayakan Batik Rifaiyah” adalah merayakan batiknya, merayakan pembatiknya.
  • Selain menjadi salah satu narasumber di acara diskusi, para pembatik Rifaiyah melakukan demo membatik, foto-foto (potret) mereka dipajang bersanding karya-karya batiknya.

plang-plang “tiga negeri’ (photo: MJA Nashir 2013)
  • Sebelum ada event “Merayakan Batik Rifaiyah”, sering ada diskusi/forum berkait Batik Rifaiyah di Jakarta. Namun forum-forum itu jarang menyebut secara tegas batik Rifaiyah sebagai batik Rifaiyah melainkan sebagai “Batik Tiga Negeri”. Forum-forum itu tidak pernah melibatkan para pembatiknya.
  • Kami melihat ada ‘kekeliruan’ yang ‘dibiarkan’ di kampung Kalipucang Wetan, yaitu penyebutan kampung itu sebagai Kampung “Tiga Negeri”. Plang-plang bertebaran bertuliskan seperti itu. Termasuk penamaan bangunan di sebelah kelurahan yang dibangun dengan tujuan tempat workshop para pembatik. Tertulis di dinding pagarnya, “Workshop Batik Tiga Negeri”.
  • Penamaan “Tiga Negeri” tidaklah tepat untuk menyebut atau menggantikan “Batik Rifaiyah” sekalipun batik Rifaiyah didominasi teknik/sistem warna ‘tiga negeri’. Penamaan “Tiga Negeri” atas batik yang dibuat khusus oleh entitas umat Rifaiyah otomatis mengaburkan kerifaiyahan itu sendiri, menjadikannya sesuatu yang ‘general’ bukan sesuatu yang ‘khusus’. Padahal batik Rifaiyah jelas sesuatu yang khusus. Khusus dibuat oleh umat Rifaiyah dan menjadi identitas yang khusus bagi entitas ini. Mengganti atau menyebut batik Rifaiyah dengan nama “Tiga Negeri” bisa berarti tidak menghargai entitas Rifaiyah.
  • Bagaimana kita bisa menyebut diri kita sedang membela sebuah tradisi suatu entitas di dalam masyarakat, seperti halnya membela indigeneous people, jika sesungguhnya yang kita lakukan justru menenggelamkannya? Maka respect kepada yang khusus itu agar tetap eksis dan lestari sebagai tradisi harus kita jaga dan utamakan.
  • “Merayakan Batik Rifaiyah” mengundang para pemerhati batik/kain tradisional dari berbagai kota – juga dibuka utuk umum – untuk berbaur dengan para pembatik rifaiyah di kampungnya langsung untuk bersama membicarakan “Batik Rifaiyah’, menjadi momentum membangun kesadaran dari dalam dan luar.
  • Dengan “Merayakan Batik Rifaiyah” diharapkan menjadi daya dorong bagi upaya pembenahan, terutama di kampung Rifaiyah itu sendiri dan semangat bagi masyarakat Kalipucang Wetan khususnya umat Rifaiyah untuk semakin peduli atas keberlangsungan tradisi batik mereka.
Sejak “Merayakan Batik Rifaiyah”, nama Batik Rifaiyah dari kampung Kalipucang Wetan semakin dikenal banyak orang. Ini juga berkat pemberitaan media massa yang telah turut memberitakan event 2016 itu. Sejak event tersebut banyak orang dari Jakarta, kota-kota lain dan luar negeri berdatangan. Mereka ke Kalipucang Wetan untuk bisa bertemu para pembatik langsung dan membeli karya mereka. Ya, tentu ini dampak yang baik bagi para pembatik Rifaiyah. Masukan dan harapan kami untuk komunitas batik Rifaiyah ini semoga mereka bisa membentuk koperasi pembatik. Ini penting. Agar segenap gerak ekonomi bisa dikelola dan dikontrol bersama dengan baik, demi mewujudkan kesejahteraan bersama (semua sejahtera). Dengan adanya koperasi, semua gerak jual beli lewat satu pintu berdasarkan keputusan bersama yang mengatur harga dan sebagainya. Jika ada pendapatan yang berlebih, misal karena produknya terjual dengan harga tinggi atau sukses keikutsertaan di pameran maka kelebihannya bisa dibagikan bersama lewat mekanisme koperasi. Lewat koperasi setidaknya bisa mencegah dan mengatasi persoalan-persoalan yang muncul. Menurut hemat kami ini jalan yang ‘alim’ dan ‘adil’ sebagaimana filosofi / ajaran K.H. Ahmad Rifai itu sendiri. Pendeknya dengan koperasi bisa diatur segenap hal untuk kesejahteraan dan kebaikan bersama. Nah, yang menuju ke arah ini sepertinya belum terbentuk / terlaksana dengan baik.

Para Pembatik Rifaiyah Kalipucang Wetan Batang
Yang sifatnya fisik memang sudah mulai tampak dibenahi dibanding sebelum era “Merayakan Batik Rifaiyah’. Misalnya untuk workshop batik mendapatkan bantuan dari instansi terkait di pusat untuk direnovasi menjadi tempat yang serbaguna. Nama bangunannya kami lihat sudah dengan tegas tertulis, “Workshop dan Galery Batik Rifaiyah”. Bantuan-bantuan macam ini bisa diajukan dan dapat dilaksanakan tentu karena faktor penting yang khas dan unik yaitu para pembatik Rifaiyah. Adanya para pembatik menjadi faktor utama atas keberadaan bangunan ini. Meskipun secara kenyataannya, setelah berdiri tidak membawa manfaat langsung kepada para pembatik Rifaiyah sebagai tempat kerja, mengingat para pembatik Rifaiyah bekerja di rumah masing-masing. Maka, semoga gedung “Workshop dan Galery” yang dimanfaatkan sebagai gedung serbaguna ini pengelolaan dan hasil-hasilnya bisa bermanfaat bagi kesejahteraan para pembatik bilamana manajemennya terhubung koperasi para pembatiknya.
Selain berdirinya Workshop dan Galery Batik Rifaiyah, setelah event “Merayakan Batik Rifaiyah”, juga muncul beberapa kegiatan yang dilaksanakan orang lain/instansi-instansi lain di luar Batang Heritage. Sayangnya, oleh karena tak ada koordinasi dengan Batang Heritage, kegiatan-kegiatan itu justru melenceng dari spirit ‘merayakan batik Rifaiyah’. Batang Heritage tidak anti terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan fihak-fihak di luar Batang Heritage atas Batik Rifaiyah, asalkan tidak tumpang tindih atau merusakkan keberadaan tradisi Batik Rifaiyah. Tujuan mengangkat tradisi batik Rifaiyah semestinya menjadi tujuan bersama yang selaras antar semua fihak.
Berkait hal ini bisa kita simak artikel media massa bertanggal 07/11/2016 di bawah ini,:
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar lokakarya atau workshop untuk pembentukan ekosistem desa kreatif di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Workshop tersebut memfokuskan pada kerajinan batik.Direktur Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fisik Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Selliane Halia Ishak, workshop tersebut digelar untuk meningkatkan potensi ekonomi di Batang, salah satunya batik.
Workshop digelar agar semua bisa membuat batik dan fesyen dengan pola yang sesuai dengan perkembangan dan permintaan pasar, di samping juga untuk digunakan sendiri.
"Batik Batang harus muncul dengan identitasnya sendiri yang memang unik dan tidak ditemukan di daerah lain," ujar Selliane dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, di Jakarta, Senin (7/11/2016).
Selliane menuturkan, workshop tersebut digelar selama tiga bulan yang dimulai dari bulan September 2016. Workshop tersebut diikuti sebanyak 40 perajin batik di Kabupaten Batang.
Adapun, pelatihan yang diberikan dalam workshop tersebut, meliputi pembuatan desain batik klasik, kontemporer, desain fesyen dengan bahan dasar batik, hingga pewarnaan alami.  Dalam pelatihan ini, Bekraf menggandeng sejumlah pakar maupun desainer untuk membimbing para perajin batik, yakni pakar kain dari Institut Teknologi Bandung Ratna Panggabean, Peneliti Batik William Kwan, serta desainer Denny Khosuma.
Selliane berharap, dengan adanya workshop perajin batik di Batang dapat menunjukkan identitasnya sendiri, yang selama ini tenggelam oleh batik Pekalongan. "Bagaimanapun, batik Batang memiliki potensi untuk berkembang karena memiliki motif yang unik, yaitu Tiga Negeri dan Rifaiyah. Jika ditunjang oleh kemampuan desain fesyen, akan sangat terbuka bagi batik Batang untuk go international," kata dia. 
Sumber artikel: https://money.kompas.com/read/2016/11/07/155125926/bekraf.siap.bawa.perajin.batik.batang.go.international.
Dari artikel tersebut kita mendapati kenyataan tentang tujuan yang justru kurang jelas dan terkesan saling berlawanan. Di satu sisi bilang ‘Batik Batang harus muncul dengan identitasnya sendiri yang memang unik dan tidak ditemukan di daerah lain’ namun di sisi lain ‘agar semua bisa membuat batik dan fesyen dengan pola yang sesuai dengan perkembangan dan permintaan pasar’. Satu sisi dengan dalih menjaga identitas dan keunikan, di satu sisi untuk menjadi pasaran dan fashion modern. Mana sesungguhnya yang mau dibela? Jika tujuan sesungguhnya untuk jadi pasaran dan fesyen dalam hal ini industrialisasi modern, apakah dengan cara itu bisa melanggengkan tradisi atau justru menghancurkannya? Dengan jalan itu apakah bisa menggaransi bahwa keunikan dan identitas bisa terjaga atau malah yang akan terjadi justru pola penyeragaman? Belum lagi bagaimana dengan kajian soal spiritualitasnya, apakah spritualitas pada akhirnya akan diprofankan? Jika tujuannya ‘pembentukan ekosistem desa kreatif’, betapa sangat terlambatnya institusi ini karena sejak lama desa ini sudah sangat kreatif atas tradisi batik Rifaiyahnya. Tujuan lainnya tampak pada kalimat ‘Batik Batang memiliki potensi untuk berkembang karena memiliki motif yang unik, yaitu Tiga Negeri dan Rifaiyah. Jika ditunjang oleh kemampuan desain fesyen, akan sangat terbuka bagi batik Batang untuk ‘go international’’. Sedangkan ‘go international’ pada praktiknya selama ini adalah ikut cara mainstream untuk mengatur ekonominya. Apakah jalan untuk ‘go international’ hanya bisa

2013, saat penulis bersama Arief Dirhamzah dari Pekalongan Heritage, meninjau desa Kalipucang Wetan Batang. (photo:MJA Nashir)
dicapai dengan jalan mainstream macam itu? Kenapa bukan dengan menciptakan jalan yang khusus, yang memuliakan pengrajin, misalnya dengan menciptakan pasar khusus bagi kerajinan tradisional/batik tradisional? Lagi pula gerak dunia saat ini secara mondial mulai berbenah untuk berubah. Para ahli kain di tingkat internasional sedang terus gigih memperjuangkan kembali pentingnya nilai-nilai dalam tradisi, pentingnya jalan tradisi dan agar dunia fashion modern tidak menghabisi tradisi yang masih ada di Bumi. Apalagi dunia fashion modern lewat kapitalisme telah turut andil dalam kerusakan lingkungan Bumi dengan semakin terkikisnya tradisi dan cara-cara asli (pribumi).
“Sebaliknya, kebanyakan orang masih berfikir bahwa fashion akan menyelamatkan tradisi-tradisi asli,” ujar antropolog ahli kain tradisi, Sandra Niessen menanggapi hal ini.
Kembali pada berita artikel kompas.com di atas, kegiatan lokakarya dan workshop yang dilaksanakan di Kalipucang Wetan itu mengikutsertakan para pembatik Rifaiyah sebagai pesertanya, selain para pembatik dan pegiat Batik Batang lainnya, dicampur jadi satu. Bukankah yang semacam ini adalah jalan untuk penyeragaman? Bagaimana tentang yang unik, tentang identitas? Mereka disatukan dalam satu forum yang bertujuan untuk ‘melatih’ mereka semuanya, dilatih sejumlah pakar maupun desainer. Kenapa mereka yang merasa sebagai kaum ‘modern’ harus merasa superior atas yang tradisi? Bukankah macam ini adalah fikiran kolonial sebagaimana ‘modern’ sendiri baru muncul di zaman kolonial? Orang kota merasa lebih hebat, lebih maju, dari pada orang kampung? Lantas berusaha memberi contoh atau mendikte orang-orang kampung untuk berbuat bagaimana sesuai orang-orang kota? Di sinilah terdapat arogansi dari yang merasa ‘modern’ pada yang tradisional. Orang-orang sekolahan dan desainer (modern) mengajari para pembatik Rifaiyah yang notabene para pembatik Rifaiyah itu merupakan maestro tradisi? Bukankah justru orang-orang yang merasa ‘modern’ itu yang semestinya perlu belajar dari orang-orang kampung, para pembatik ini untuk bisa mengerti apa itu batik tradisional? Semestinya orang-orang tradisi inilah gurunya. Guru atas suatu bidang tradisi yang telah lama menjadi dunia dan hidupnya. Penghargaan kepada para pengrajin/seniman tradisi sehingga terbit rasa kebanggaan seperti itulah yang semestinya menjadi dasar bagi upaya pelestarian tradisi.
Atas pembahasan yang saya paparkan ini Sandra Niessen menambahkan kajian sebagai berikut:
Sekilas, fesyen, pariwisata, dan penjualan kepada penggemar merupakan peluang untuk memperluas pendapatan produsen kerajinan. Logikanya di sini adalah bahwa pendapatan yang diperluas akan membuat kehidupan para pengrajin menjadi lebih baik, memberi mereka akses yang lebih baik pada kesejahteraan: kesehatan, pendidikan, materi. Akan tetapi, masalahnya lebih kompleks. Ada kelemahan yang perlu dikenali.
Ketika sebuah komunitas bergantung pada dirinya sendiri, anggota komunitas memiliki tingkat kendali atas kehidupan ekonomi mereka. Dalam kasus batik Rifaiyah, komunitas sendirilah yang memutuskan desain mana yang akan dibuat dan bagaimana caranya. Komunitaslah yang memahami makna batiknya dan fungsi tradisi sebagai semacam 'perekat' bagi komunitas itu sendiri. Komunitas menggunakan dan memakai batiknya sendiri sebagai lambang identitas.
Ketika pembuat batik menjadi tergantung pada pasar luar (eksternal), mereka menjadi tunduk pada kekuatan yang tidak dapat mereka kendalikan. Pasar kerajinan terkenal karena sifatnya 'boom and bust': tahun ini sebuah kerajinan atau warna digemari (modis) dan tahun depan tidak; tahun ini banyak turis, tahun depan tidak. Jika pembuat batik tumbuh tergantung pada pendapatan dari sumber eksternal/luar, ia akan menjadi sangat ingin mempertahankan pendapatan itu, dan akan cenderung mengubah dan menyesuaikan desainnya dengan selera eksternal untuk mempertahankan penjualannya. Dia mungkin juga akan mulai mengambil jalan pintas untuk mempercepat produksi dan membuatnya lebih murah, untuk mempertahankan penghasilannya. Menghubungkan ke pasar eksternal, yang sekilas tampak sebagai cara ideal untuk meningkatkan pendapatan pengrajin, akhirnya menjadi stimulus untuk mengubah desain dan kualitas. Ada cukup banyak contoh di seluruh dunia, dan juga di Indonesia, atas bagaimana pasar eksternal mengubah tradisi kerajinan, terkadang sampai pada titik yang tidak dapat dikenali lagi.
Ada hal lain yang harus diperhitungkan, yaitu status produsen kerajinan. Sebagai produsen independen, ia bertanggung jawab atas desain. Dia adalah perancang (desainer) sekaligus pembuat sekaligus pemasar. Jika dia mulai, karena alasan keuangan, lalu bekerja untuk desainer luar (eksternal), dia berisiko kehilangan kendali atas apa yang membuat karyanya unik, karena hanya menjadi pembuat, 'buruh' untuk seorang desainer (desainer ini seringkali laki-laki dan biasanya bukan dari budayanya).
Sekalipun pekerjaan kerajinannya menjadi sangat populer dan dia berada dalam posisi menghasilkan banyak untuk pasar yang sedang berkembang, dia tetap hanya seorang buruh. Karyanya kehilangan kualitas spiritualnya dan pencapaiannya cuma nilai ekonomi semata. Ini adalah transformasi yang signifikan bagi seluruh komunitas; konsekuensi kognitif ketika sesuatu yang spiritual menjadi komersial berjalan sangat dalam.
Sebagai tambahan - dan ini adalah aspek lain dari komersialisasi kerajinan - Indonesia sekarang sedang marak bereksperimen dengan desain komputer "untuk membantu" pengrajin dan juga mekanisasi produksi 'batik'. Tidak hanya keterampilan desain pengrajin yang dikesampingkan, tetapi keterampilan teknisnya menjadi asing. Keputusan produksinya dibuat oleh luar komunitas dan di luar kendali pengrajin - dan biasanya oleh laki-laki. Contoh trend macam ini berlimpah di dunia pertenunan. Mesin seperti ATBM dan alat tenun mekanik telah merampas keterampilan penenun tangan, dan pola dibuat pada komputer. Pemilik pabrik memperoleh keuntungan finansial, dan buruh tidak. Pola-pola umumnya sesuai dunia mode dan budaya asli tidak memperoleh apa-apa. Dalam proses yang demikian ini, status pengrajin menjadi sangat rendah, kontrol tidak ada dan sisi budayanya dikompromikan dan bahkan 'menghilang'.
Sampai sekarang, pembuat kebijakan di Indonesia telah gagal melindungi produsen kerajinan. Lebih buruk lagi, banyak orang masih percaya bahwa produksi mekanis merupakan langkah penting menuju 'modernitas'. Dengan memfokuskan secara eksklusif pada peningkatan pendapatan, mereka gagal untuk menyadari bahwa budaya dan teknik asli juga memiliki nilai, baik kekal maupun adiluhung, dan bahwa dengan mengubah cara dan estetika asli, masa depan pariwisata juga sedang dikompromikan.

Prasetyo Widhi, Batang Heritage, sedang mewawancarai Mbah Umriyah, pembatik Rifaiyah
Betapa tidak masuk akal bagi kami, Batang Heritage, yang tiap saat berusaha beri hormat kepada para pembatik Rifaiyah ini ketika mendengar mereka diajari bagaimana semestinya mendesain batik dalam workshop tersebut. Barangkali mereka mau-mau saja menjadi peserta workshop karena kenal orang yang mengajaknya. Mereka orang-orang bersahaja, berusaha menghormati tamu di kampungnya, tanpa perlu tahu sesungguhnya workshop itu untuk apa. Yang kami Batang Heritage kuatirkan pula justru jangan-jangan mereka mau ikut workshop macam itu karena diberi upah/fee. Jika ini benar, maka ini juga bisa membahayakan, meskipun benar bahwa mereka harus diberi fee sebagai ganti atas hilangnya pendapatan harian mereka bekerja.

Galang dana kemanusiaan lewat media sosial, Batang Heriatge 2018
Nah, kekuatiran kami tampak nyata ketika 11 Juli 2018 ada workshop semacam ini diselenggarakan Deperindag Batang di Workshop dan Galery Batik Rifaiyah Kalipucang Wetan. Saat workshop berlangsung tengah hari terjadi musibah kebakaran menimpa peserta workshop, Nur Maulidah (38). Korban parah ini dilarikan ke rumah sakit. Ada kenyataan pahit dari peristiwa ini; korban adalah salah satu pembatik terbaik Rifaiyah.
Salah satu pembatik terbaik jadi peserta pelatihan batik? Ada apa ini? Ternyata karena kebutuhan biaya sekolah anaknya. Korban bersuamikan Abdul Kholik (45), beranak dua, ini telah beberapa tahun meninggalkan aktivitas batik karena faktor ekonomi dan beralih sebagai pengrajin keset kaki. Selama ini di Kalipucang Wetan sering ada workshop dan kabar adanya fee/upah bagi peserta menyebarluas hingga ke Nur Maulidah di Mberan. Harapan dapat upah membuat Nur Maulida yang hamil 5 bulan turut serta workshop. Upah yang tidaklah seberapa bila dibanding kemalangannya. Batang Heritage sempat menggalang dana kemanusiaan lewat media sosial untuk korban kecelakaan ini. Sebuah program/kegiatan semestinya lahir dari persoalan-persoalan yang sesungguhnya di masyarakat. Sejak awal harusnya dipersiapkan secara matang dan dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab dari penyelenggara, termasuk resikonya.

Nur Maulidah dengan karya batik Rifaiyahnya dan keadaannya saat ini.
Setahun telah berlalu. Ketika Agustus 2019 kami menjumpai kembali Nur Maulidah, ternyata masih dalam keadaan yang menyedihkan hati kami. Seharusnya fihak pembuat acara workshop yang mencelakakan dirinya setahun lalu itulah yang bertanggungjawab penuh secara serius hingga pencapaian keadaan/kesehatan yang relatif baik atas diri Nur Maulidah. Bayi dalam kandungannya di saat dirinya tertimpa kebakaran itu syukur telah lahir dengan selamat meskipun Nur Maulidah tak pernah bisa menyusuinya lantaran kondisi fisik akibat kecelakaan itu. Jika sebelumnya dia termasuk salah satu pembatik terbaik Rifaiyah – khususnya di kalangan seusianya mengingat para pembatik terbaik Rifaiyah berusia 50 tahun ke atas dan kehalusan karya batiknya menjadi kekaguman pembatik senior seperti Mbah Umriyah – namun sekarang Nur Maulidah jelas tak mampu lagi membatik. Apalagi membatik, menggerakkan tangan kanannya pun kini dia sulit.
Semoga tulisan ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Salam budaya.
****
=====MJA Nashir, aktivis budaya. ditulis Agustus-September 2019, dari materi diskusi yang disampaikan di acara "Menilik Batik Batang dari Masa ke Masa", 20 Juli 2019 di rumah budaya Babaran Segaragunung Yogyakarta.

Dikirim oleh Mja Nashir pada Minggu, 22 September 2019

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan